Menakar Kekuatan Kader Nahdhlatul Wathan (NW) Pada Pilkada Serentak NTB Tahun 2020

0
10

oleh : Saiful Hadi

Perhelatan drama kontestasi politik Pemilu 2019 telah akan mencapai akhir cerita, hanya tinggal menunggu hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

 Drama politik selama pemilu 2019 menyita banyak perhatian terutama di dunia maya atau media sosial. Kehadiran media social dewasa ini memberi warna baru bagi kompetisi elektoral.

Namun drama kontestasi elektoral tidak akan berhenti pada tahun 2019 ini, tetapi akan dilanjutkan dengan perhelatan dengan skala lebih kecil, yaitu Pilkada serentak tahun 2020.

Mayoritas daerah kabupaten / kota di NTB akan melaksanakan Pilkada serentak. Ada sekitar 7 (tujuh) dari 10 (sepuluh) wilayah akan melaksanakan pilkada , yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima.


Riak – riak kecil kontestasi regular lima tahunan ini telah mulai terdengar dengan adanya pelemparan berbagai narasi dan wacana dari berbagai pihak.

Tidak terkecuali para kader partai politik, yang mencoba melempar wacana kepada publik terkait para kader mereka yang akan dicalonkan nanti. Hal ini diperlukan untuk mengukur sejauh mana calon tersebut dikenal di masyarakat.

Tidak hanya partai politik yang mencoba membangun opini pencalonan kader di masyarakat. Selain itu juga Organisasi Masayarakat (ormas) juga ikut membangun wacana kader mereka dalam bursa pencalonan. Sebut saja ormas keagaman terbesar di NTB yaitu Nahdlatul Wathan (NW).

NW mempunyai sejarah panjang dalam percaturan politik lokal, banyak kader NW menduduki jabatan strategis di pemerintahan, semisal TGB. Zainul Majdi, Rosiyadi Sayuthi, Lalu Gede Syamsul Mujahiddin, Lalu Gede Wirasakti,  Hj. Siti Rohmi Djalilah, hingga M. Syamsul Lutfi.
Sejarah panjang keterlibatan NW di kancah dunia politik turut ikut berperan pada perkembangan organisasi NW.

Sebagai ormas yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan NW banyak melahirkan kader – kader terbaik yang kemudian menduduki jabatan strategis public.

Para kader tersebut layak dikatakan berhasil dalam mengemban tugas mereka. Proses kaderisasi yang baik dan amanah menjadi cerita panjang bagi para kader NW menduduki posisi strategis di pemerintahan.

Jalan Dakwah Melalui Perjuangan Politik

Tradisi dakwah melalui perjuangan politik di Indonesia, telah dimulai sejak pra dan awal kemerdekaan. Perjuangan awal saat merupakan perjuangan politik untuk kemerdekaan dari penjajah kolonial.

Ormas keagamaan seperti Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadyah telah mengisi sejarah perjuangan umat Islam melawan penjajah. Di lain tempat perjuangan kemerdekaan juga dilakukan oleh TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan di pulau Lombok.

Selain mendirikan pesantren untuk menempa murid – muridnya dengan ilmu agama, beliau juga menanamkan jiwa patriotik kepada murid – muridnya untuk jihad perang mempertahankan kemerdekaan, yang kala itu Lombok  masih diduduki oleh Belanda.

Setelah Indonesia bebas dari tangan Belanda, TGKH. Zainuddin Abdul Madjid masih terlibat dalam perjuangan politik, beliau tercatat merupakan tokoh penting partai Masyumi dan Golkar, serta sempat menjadi anggota Konstituante tahun 1955 dan MPR-RI sebagai utusan daerah tahun 1971 – 1982. Keterlibatan TGKH.

Zainuddin Abdul Madjid dalam dunia politik memberi bukti bahwa pemikiran beliau sangat diperlukan oleh pemerintah terdahulu dalam rangka memberikan sumbangsih pemikiran dan karya untuk negeri.

Mengutip perkataan  Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan, bahwa apabila orang Islam yang baik tidak terjun ke politik, maka akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak peduli dengan Islam. “Bahwa perjuangan organisasi Nahdlatul Wathan tidak terbatas, perjuangan dan dakwah juga bisa dilakukan melalui jalur politik yang dilandasi Iman dan Taqwa. Bukan untuk meraih kekuasaan semata”, begitulah pernyataan Bupati Kabupaten Lombok Utara Najmul Akhyar yang sekaligus merupakan kader NW dalam sebuah portal berita online lokal.

Baca :  Serikat Buruh FSB KIKES DPC Lampung akan Unras di PT Visi Prima Artha, Aparat kepolisian mediasi Kedua belah pihak

Ormas NW secara prinsip tidak terlibat dalam politik praktis, tetapi NW tidak dapat terpisahkan dari dunia politik. Kader-kader unggulan NW memang terlibat politik praktis, namun mereka tidak melibatkan NW secara institusi di dalamnya. Dakwah tidak hanya dilakukan dengan hanya berceramah dan mengajar saja, jalur politik juga merupakan dakwah para kader NW untuk berkontribusi terhadap pembangunan daerah, maupun nasional.

Menanamkan nilai –nilai keislaman yang samina wata’na merupakan perjuangan Islam agar politik tidak hanya diisi oleh kekuasaan bersifat negatif, maka NW hadir guna mengisi kekuasaan dengan prinsip – prinsip Islam.

Salah satu kader NW yang dapat dikatakan berhasil adalah TGB. M. Zainul Majdi, beliau merupakan tokoh NTB yang mampu bersaing sebagai tokoh nasional.

Keberhasilan memimpin NTB sebagai Gubernur dua periode adalah bukti nyata hasil karya beliau untuk NTB. Atas keberhasilan tersebut mengantarkan nama beliau dibicarakan secara nasional, yang semula hanya dikenal sebagai tokoh daerah saat ini menjadi tokoh nasional.

Meroketnya ketokohan TGB. M. Zainul Majdi juga disusul oleh saudaranya yakni M. Syamsul Luthfi, secara ketokohan beliau menembuah nasional, terbukti dengan terpilihnya beliau sebagai Calon DPR-RI dalam Pemilu kemarin.

Dan beliau sudah terpilih menjadi DPR-RI dua kali periode 2014 – 2019 dan 2019 – 2024. Bahkan karir politik Syamsul Luthfi dimulai dari bawah mulai dari Ketua DPRD Kabupaten Lombok Timur periode 2004 – 2008, Wakil Bupati Lombok Timur periode 2008 – 2013.

Kader Potensial NW Pada Kontestasi Pilkada Serentak 2020

Azyumardi Azra dalam tulisannya “Esai-Esai Intelektual Muslim Pendidikan Islam”,pesantren memiliki fungsi kelembagaan yang memiliki tiga peranan pokok.

Pertama, transmisi ilmu pengetahuan Islam. Kedua, pemeliharaan tradisi Islam. Ketiga, pembinaan calon-calon ulama. Keilmuan pesantren lebih mengutamakan penanaman ilmu dari pada pengembangan ilmu. Selain memberikan basis ilmu Islam, pesantren juga menjadi wadah pengkaderisasi calon – calon pemimpin Islam, dan dibekali dengan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan perubahan zaman.

Mengutip tulisan Kartini Kartono dalam “Pemimpin dan Kepemimpinan”, kepemimpinan yang efektif merupakan realisasi perpaduan bakat dan pengalaman kepemimpinan dalam situasi yang berubah-ubah karena berlangsung melalui interaksi antar sesama manusia.

Kepemimpinan yang sukses itu mampu mengelola apa yang dipimpinnya, mampu mengantisipasi perubahan, mampu mengoreksi kekurangan dan kelemahan serta sanggup membawa lembaga pada tujuan yang telah ditetapkan. sehubungan dengan hal ini pimpinan merupakan kunci sukses bagi organisasi.

Kaderisasi NW dalam menciptakan kepemimpinan masa depan dengan proses kaderisasi yang secara konsisten mencetak kader – kader unggulan. Oleh sebab itu, Nahdlatul Wathan tidak pernah kekurangan kader dalam rangka mengisi berbagai posisi penting di jabatan publik, karena secara keilmuan agama dan keilmuan sains umum para kader NW telah ditempa dengan berbagai pendidikan formal maupun informal.  

Baca :  SAID HABIBIE, Resmi Dikukuhkan Sebagai Ketua Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Komisariat Malikussaleh

Para kader NW menjunjung tinggi tokoh panutan mereka sebagai panduan mereka ketika mengemban amanah.

Dalam berbagai perhelatan Pilkada kader NW tidak pernah absen mengisi bursa calon pemimpin kepala daerah. Semenjak awal dilaksanakannya Pilkada hampir semua bursa calon kepala daerah wilayah NTB kader – kader hadir terlibat.

Bahkan kader NW beberapa kader berhasil sebagai pemenang Pilkada, diantaranya TGB M. Zainul Majdi dan Siti Rohmi Djalilah (dalam Pilgub NTB), kemudian M. Syamsul Luthfi, Najmul Akhyar, dan Akhyar Abduh (Pilbup Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, dan Kota Mataram).

Pada pilkada serentak pada tahun 2020 nanti, tentunya para kader NW akan coba diajukan sebagai bursa calon kepala daerah NTB. Dari sekian banyak kader, ada beberapa kader yang mempunyai kadar popularitas dan elektabilitas cukup tinggi, diantaranya Rosiyadi Sayuthi, H. Irzani, HM Khairul Rizal, Najmul Akhyar (Petahana), Lalu Gede Syamsul Mujahiddin, Lalu Gede Wiraskati, dan lainnya.

Para kader diatas merupakan tokoh – tokoh terkenal di NTB, karena mereka punya kedudukan strategis di mata publik. Oleh karena itu, kader – kader dianggap “sexy” untuk menggaet para pemilih. Secara kepemimpinan mumpuni dan  intelektulitas keimuan mereka di atas rata – rata.

Sebagai kader yang lahir dari Rahim Nadhlatul Wathan mereka sudah siap menjawab tantangan pembangunan dan kepemimpinan di Nusa Tenggara Barat.
Selain memiliki kader – kader unggulan, NW juga memiliki basis massa pendukung cukup besar dan terkenal militan, loyal, serta fanatik.

Jika kader – kader NW bertarung dalam kontestasi elektoral dalam hal Pemilhan Kepala Daerah, maka dukungan moril dan materiil akan senantiasa diberikan oleh simpatisan –simpatisan NW yang berada di seluruh wilayah NTB. Dari sepanjang sejarah perhelatan Pilkada, dukungan nyata para kader dan simpatisan NW dapat dikatakan sangat besar mendukung calon Kepala Daerah yang berasal dari NW.
 
Peran Lintas Generasi Nahdlatul Wathan (LIGA NW)

Liga NW adalah organisasi yang digagas oleh para kader NW di Jakarta, dan dideklarasikan oleh TGB. M. Zainul Majdi bersama Lalu Tjuk Sudarmadi.

Organisasi yang diketuai oleh Saepul Hadi ini, bertujuan mempersatukan perjuangan NW dengan mensoliditaskan NW saat ini. Berasama – sama berjuang memajukan NW dalam upaya membesarkan nama organisasi di kancah nasional.

Cita – cita Liga NW mendorong kader – kader NW untuk berjuang dan berkarir melalui bidang apapun, sehingga jejaring oganisasi ada segala lini,. Seseuai namanya Liga NW berusaha mengkolaborasikan lintas generasi, guna terciptanya kekuatan kader yang kuat, serta mengintegrasikan dua kubu NW dalam rangka penguatan dan mempermudah pengembangan organisasi ke depan.

Terkait Pilkada serentak tahun 2020, Liga NW mendorong para kader ikut terlibat dalam kontestasi elektoral tersebut. Memberi ruang seluas – luasnya bagi kader untuk terlibat sebagai calon kepala daerah. Menyerukan seluruh elemen – elemen NW di seluruh NTB untuk mendukung calon kepala daerah dari kader – kader NW.

Maka diperlukan konsolidasi antar elemen – elemen, guna mencapai tujuan menyukseskan kader – kader NW. Persatuan NW penting untuk mengembangkan institusi NW kearah masa depan yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here