HMI KEMBALI KE AWAL KHITTAH PERJUANGAN

0
14

Sebagai organisasi perjuangan, HMI telah menjadi salah satu kiblat pergerakan mahasiswa dalam mengawal berbagai dinamika kebangsaan dan keummatan.

Didirikan oleh Prof. Drs. Lafran Pane pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H atau 05 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (sekarang UII) Kota Djogjakarta, HMI menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan mahasiswa islam kala itu karena spirit perjuangannya yakni Mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan menganggakat harkat dan martabat masyarakat indonesia serta mendirikan syariat islam.

Spirit perjuangan Islam ke Indonesiaan yang menjadi semboyan dari perjuangan organisasi ini pun membuat Partai Komunis Indonesia melalui Central Gerakan Mahasiswa Indonesia menginginkan HMI dibubarkan karena dianggap merupakan perpanjangan tangan dari Masyumi dengan simbol islam yang melekat pada HMI itu sendiri.

Namun nyatanya, upaya yang dilakukan oleh PKI melalui CGMI rupanya tidak menarik simpati bagi masyarakat indonesia utamanya mahasiswa sehingga Soekarno selaku Presiden RI menolak untuk membubarkan HMI.

Tahun demi tahun, organisasi HMI terus tumbuh dan berkembang serta mampu melahirkan tokoh tokoh bangsa yang memiliki peran besar dalam mewarnai dinamika kebangsaan dan keummatan di indonesia. Tokoh tokoh tersebut sebut saja Prof. Drs. Lafran Pane sebagai pendiri sekaligus tokoh central di tubuh HMI, Nurkholis Madjid sebagai tokoh pluralitas di indonesia dan diakui dunia, Akbar Tandjung selaku politisi ulung yang mewarnai dinamika politik di indonesia, M. Jusuf Kalla yang pernah menjadi Wakil Presiden RI selama 2 periodeisasi yang berbeda, Mahfud MD yang sekarang menjabat Menkopolhukam, Aksa Mahmud sebagai salah satu pengusaha sukses di indonesia dan masih banyak lagi lainnya.

Baca :  Menolak akhyar menggunakan PMII sbg organisasi kaderisasi untuk kepentingan politik elektoral

Kebesaran nama HMI ini tentunya bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan karena berbagai intrik dari pihak eksternal senantiasa berusaha menjatuhkan organisasi ini. Berbagai cara dilakukan agar organisasi ini tidak lagi menjadi daya pikat bagi mahasiswa muslim di indonesia yang pada intinya menginginkan organisasi ini tidak lagi menjadi patron gerakan kemahasiswaan di indonesia.

Disisi lain, konflik internal di tubuh HMI semakin menjadikan organisasi ini ibarat “pesakitan” yang hingga kini belum mendapat obat penawarnya. Dualisme kepemimpinan dalam struktural PB HMI adalah cermin bahwa organisasi ini telah melenceng dari kittahnya dan lebih mengutamakan politik praktis dalam menggapai kekuasaan di struktural HMI.

Tentunya ini menjadi auto kritik bagi kita semua yang kini sedang berada pada masa kemunduran HMI. Kita boleh bangga akan nama besar HMI yang pernah mengguncangkan indonesia melalui berbagai gerakan yang dilakukan HMI. Namun disisi lainnya, menjadi sebuah tanggung jawab bersama bagi kita sekarang untuk membenahi HMI agar kembali ke AWAL berdirinya organisasi ini.

Sebagai organisasi besar dan matang dalam berbagai dinamika, bukan hal mustahil bagi HMI untuk kembali ke kittahnya sebagai organisasi perjuangan. Hal mendasar yang mestinya dilakukan sekarang adalah kesadaran dalam Berhimpun dan tidak mengedepankan EGO pribadi dalam mengelola organisasi ini.

Baca :  PMII Cabang Ciputat Bentuk Badan Khusus Kaderisasi Di Tengah Pandemi

Disamping itu, kualitas kader HMI harus senantiasa mengikuti bahkan jika perlu melampaui peradaban zaman seperti yang pernah dilakukan oleh Nurkholis Madjid. Gerakan intelektual dan spiritual menjadi sebuah keharusan bagi tiap insan yang berhimpun dalam keberhimpunan HMI.

Pembenahan yang juga mestinya dilakukan terhadap HMI adalah menjawab berbagai tantangan zaman kekinian seperti menjawab tantangan di era 4.0 dan juga terkait kecenderungan mahasiswa indonesia ke arah enterpreneure.

Sejatinya, HMI akan senantiasa eksis di indonesia. Namun, eksistensi HMI yang kita harapkan bukanlah sekedar seremonial belaka tetapi eksistensi HMI yang dapat memberikan kontribusi positif bagi ummat dan bangsa di masa yang akan datang.

HMI KEMBALI KE AWAL adalah menjadikan organisasi ini kembali ke jalurnya sebagai organisasi perjuangan dalam rangka menjaga keutuhan bangsa dan kebinnekaan ummat di indonesia.

Hormat Saya.

Awaludin
—————
Wasekjen PB HMI 2018-2020.
Ketua Bidang Pemberdayaan Ummat Badko HMI Jabodetabeka-banten 2016-2018.
Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Pusat Utara 2013-2014.
Ketua Umum Komisaris STIE TDW 2009-2010.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here