Nikmatnya Beramal di Bulan Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

0
22
Nurul Hasyifah, Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat UIN

Suratkabarnews.com – Amal berasal dari bahasa Arab yang berarti mengamalkan, berbuat, dan bekerja. Dalam pandangan Islam, amal adalah setiap perbuatan kebajikan yang diridhai oleh Allah SWT. Orang yang beramal bertujuan untuk mensucikan diri sebagai salah satu cara untuk bertaubat.

Beramal pada bulan Ramadhan akan mendapat pahala yang berlipat ganda seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 245, Allah berfirman “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.

Apalagi saat ini dunia sedang mengalami wabah Covid-19 atau virus corona, maka penting untuk kita beramal di tengah pandemi ini. Covid-19 sudah menjadi wabah penyakit yang menyebar ke hampir seluruh dunia. Penyakit ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China. Covid-19 merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan dan penularannya bisa sangat cepat hingga menimbulkan kematian.

Virus mematikan ini memiliki gejala seperti demam yang mencapai 38 derajat celsius di atas suhu tubuh, batuk, dan sesak nafas. Gejala ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus Covid-19.

Virus ini dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil, orang yang memiliki penyakit tertentu, perokok, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah, misalnya pada penderita kanker. Karena mudah menular, virus ini juga berisiko tinggi menginfeksi para tenaga medis yang merawat pasien Covid-19. Oleh karena itu, para tenaga medis dan orang-orang yang memiliki kontak dengan pasien Covid-19 perlu menggunakan alat pelindung diri (APD).

Perkembangan kasus Covid-19 semakin meningkat. Menurut Worldometers pada 4 Mei 2020, kasus Covid-19 di dunia sudah mencapai 3.581.871 dengan total kematian sebanyak 248.555 orang sedangkan total kesembuhan sebanyak 1.159.500 orang. Kondisi ini sangat memprihatinkan, bahkan di negara Indonesia kasus Covid-19 ini sudah meraja lela.

Baca :  Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Univ. Bung Karno (IKAFE) menggelar Musyawarah Besar dengan mengusung tema “Ikhtiar merajut silaturahmi,alumni bersatu untuk kejayaan”

Menurut BNPB pada 4 Mei 2020, kasus Covid di Indonesia sudah mencapai 11.587 dengan total kematian 864 orang sedangkan total kesembuhan  sebanyak 1.954 orang. Sementara jumlah ODP (Orang Dalam Pemantauan) di Indonesia sampai saat ini tembus sebanyak 238.178 orang dan sebanyak 24.020 orang Pasien dalam Pengawasan (PDP).

Semenjak adanya wabah Covid-19, beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan sistem lockdown. Sistem ini diberlakukan agar dapat mengurangi penyebaran virus corona dengan penutupan akses dari dalam maupun luar. Selain itu, pemerintah juga menganjurkan untuk diterapkannya WFH (Work From Home). WFH ini diterapkan agar dapat mengurangi risiko penularan virus Covid 19 dan keselamatan karyawan.

Virus Covid-19 dikhawatirkan berdampak negatif pada psikologi masyarakat, seperti kekecewaan tentang peristiwa yang di batalkan dan perasaan tidak berharga bagi mereka yang tidak bisa pergi bekerja. Ada banyak ketakutan dan kecemasan yang dapat mendorong perilaku merugikan bagi diri sendiri.

Beberapa orang tidak tahu cara mengelola kecemasan dan ketakutan mereka. Apalagi semenjak pemerintah menghimbau untuk melakukan isolasi mandiri sebagai tindakan pencegahan terhadap virus. Isolasi mandiri bertujuan agar masyarakat tetap tinggal di dalam rumah atau tempat tinggal masing-masing sambil melakukan upaya pembatasan fisik dengan orang lain. Masyarakat juga diharapkan menerapkan social distancing dan physical distancing. Pentingnya menerapkan social distancing untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain.

Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau sering disebut World Health Organization (WHO) mulai menggunakan istilah ‘physical distancing’ atau jaga jarak fisik antar manusia sebagai cara untuk menghindari penyebaran virus corona lebih luas. Dengan demikian, banyak masyarakat yang stres dan tertekan memikirkan masalah ekonomi, seperti penurunan pendapatan serta banyak pekerja yang mengalami PHK akibat wabah covid 19.

Dengan melihat kasus Covid 19 yang semakin meningkat dan memprihatinkan, akhirnya pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna memutus rantai penyebaran virus. Akan tetapi selama PSBB ini diberlakukan, banyak perekonomian masyarakat yang mengkhawatirkan dengan melihat pemulung dan pengemis yang berada dipinggir jalanan serta ojek online yang tidak bisa melakukan aktivitasnya untuk menafkahi keluarganya.

Baca :  Mahasiswa UTA 45, melakukan sosialisasi CHF (Congestive Heart Failure) ke warga Sunter

Maka sebagai umat manusia yang berkecukupan dan memiliki gaji meskipun tidak bekerja diluar rumah, hendaklah beramal dengan fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Ada banyak kegiatan beramal yang bisa dilakukan pada bulan Ramadhan apalagi ditengah wabah Covid-19, seperti pembagian makanan untuk sahur dan buka puasa serta pembagian masker agar terhindar dari penularan virus corona.

Begitu banyak pahala yang diperoleh dengan beramal pada bulan Ramadhan apalagi ditengah wabah Covid 19 ini. Perlu diingat, bahwa beramal harus dilakukan dengan hati yang ikhlas dan tulus agar orang yang diberi dapat merasakan kenikmatan setelah menerima amalan tesebut. Akan tetapi, banyak pula orang di luar sana yang beramal hanya merupakan ajang ikut-ikutan dan menimbulkan sikap riya.

Orang yang riya dalam beramal akan , misalkan mengunggah foto ataupun video agar orang lain bisa melihatnya kemudian memuji dirinya. Jika seseorang beramal dengan maksud pamer dihadapan manusia, maka amalan tersebut batal dan tidak sah. Orang yang riya tersebut tidak mengetahui dampak yang ia lakukan dan tidak mengetahui ada banyak hikmah yang dapat diperoleh ketika kita melakukan amalan dengan ikhlas dan tulus di tengah wabah Covid 19 ini.

Hikmah yang dapat diperoleh dengan beramal pada bulan Ramadhan di tengah wabah Covid 19 ini, yaitu Allah menjanjikan pahala yang berlipat-lipat untuk umat Islam yang gemar beribadah di bulan Ramadhan apalagi beramal untuk orang yang mengalami kesusahan menghadapi wabah penyakit virus corona ini. Dengan adanya wabah Covid 19 ini mengajarkan kita bahwa “Cobaan adalah anugerah, karena disaat itulah Tuhan menunjukkan rasa sayangnya”.

Penulis: Nurul Hasyifah, Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Angkatan 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here